Resum KBMN 32 PGRI
Pertemuan 6
Senin, 03 Januari 2025
Materi : Diksi dan Seni Bahasa
Pertemuan : 6
Narasumber : Maydearly
Moderator : Purbaniasita Kusumaning Sedyo, S.Pd
Penulis : Musdalifah, S.Pd.I
Senin, 03 Februari 2025
Moderator kita malam ini adalah Purbaniasita biasa dipanggil
Sita. Salah seorang dari alumni KBMN gelombang 26 akan membersamai kelas
Menulis nusantara Dan yang sangat luar biasa Narasumber kita Seorang ibu guru cantik yang mempunyai segudang prestasi
beliau adalah bunda MAYDEARLY dengan julukan Queen of Diction atau ratu diksi. judul
materi “Diksi dan Seni Bahasa”
Berikut prestasi-prestasi yang telah beliau hasilkan
1. Penulis 4 buku Solo, 1 buku duo, dan 1 buku trio, serta 15
buku Antologi
2. Dewan Juri Tingkat Kabupaten
3. Narasumber Nasional
4. MC tingkat Kecamatan
5. Moderator tingkat Nasional
6. Berbakat dalam seni Musik
Nah kita lanjut paparan materi beliau.
Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat serta selaras
dan bertujuan agar pembaca dapat memahami teks dalam tulisan. Diksi lahir untuk memberikan ruh
agar sebuah kata memiliki kepantasan yang lebih bermakna. Dengan Diksi, kita
akan lebih merasakan warna dan rasa untuk setiap kalimat. Dahulu, sejarahwan
Yunani bernama Aristoteles memperkenalkan Diksi untuk menulis puisi. Kini,
Diksi berkembang pesat tidak hanya pada puisi tapi juga digunakan untuk
memperindah bahasa sebagai padanan kata agar lebih terasa maknanya.
Diksi adalah padanan kata Dimana setiap kata memiliki sinonim
Ketika kita terbiasa menyebut kata "membaca" sesekali kita cari
padanan dengan kata "merapal". Contohnya Kita akan menjadi sepasang
asing atas kehilangan masing-masing, aku merapal namamu dalam punggung malam
nan keriput, walau selalu luka namamu adalah nyata dalam kidung do'a
Apakah Diksi selalu bertajuk puisi? tentu tidak. Karena Diksi
adalah kata pengganti yang bermakna sama, bisa dipakai pula untuk sebuah karya
ilmiah. Ketika kita
memahami Diksi, menulis Novel, menulis cerpen, atau bahkan buku ilmiah. Maka
karya itu akan lebih bermakna. Dalam konteks sastra atau tulisan kreatif, keindahan diksi
sangat penting karena dapat mempengaruhi bagaimana pembaca merespons dan
menghayati karya tersebut. Kata-kata yang dipilih dengan cermat tidak hanya
memperkaya pengalaman membaca tetapi juga dapat mengekspresikan nuansa, emosi,
atau gambaran dengan lebih mendalam. Jadi, untuk mencapai keindahan diksi, penulis perlu
memperhatikan konteks penggunaan kata-kata, pemilihan kosakata yang sesuai
dengan nada atau suasana yang diinginkan, serta kemampuan untuk menggambarkan
atau menggambarkan dengan cara yang unik dan menarik. diksi adalah ruh dari
sebuah kalimat. Ketika kita sudah menulis dengan rasa, maka hati kita akan
mudah memilah diksi yang kita inginkan. Diksi adalah tentang seni bahasa, dalam
seni tentu ada irama, irama ini dihasilkan dari Diksi. Penggunaan diksi
sangatlah variatif, tergantung jenis tulisan yang kita sajikan. Ketika kita
menulis cerpen atau Novel, tentu perlu diksi yang sangat manis Diksi adalah
seni Bahasa, ketika kita belajar diksi, artinya kita belajar gaya Bahasa Diksi
dapat digunakan untuk mengkritisi estetik dalam masyarakat, tentu harus diksi
yang tidak berbau majas hiperbola, tetapi lebih kepada kalimat tegas dan lugas
1. Sense of touch atau indera sentuhan dapat berperan penting
dalam mengembangkan diksi, terutama dalam menggambarkan atau menjelaskan
pengalaman fisik atau emosional. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of
touch dapat membantu dalam pengembangan diksi:
· Deskripsi
Fisik: Menggunakan kata-kata yang merujuk pada sensasi fisik yang dirasakan
oleh karakter atau objek dalam cerita. Misalnya, "rasa kasar batu yang
menggores telapak tangan" atau "kelembutan bulu halus yang menyentuh
pipi".
·
Ekspresi
Emosi: Mendeskripsikan bagaimana indera sentuhan mempengaruhi suasana hati atau
emosi seseorang. Contohnya, "rasa dingin membelai kulitnya membuatnya
merasa kesepian" atau "kehangatan pelukan memenuhi hatinya dengan
kedamaian"
·
.Nuansa dan
Atmosfer: Menggunakan sensasi sentuhan untuk membangun nuansa atau atmosfer
dalam sebuah setting. Misalnya, "angin sepoi-sepoi menyentuh kulit mereka
dengan lembut di tepi pantai yang sunyi" atau "hujan deras yang
membasahi bumi dengan kelembutan."
·
Metafora dan
Personifikasi: Menggunakan sentuhan secara metaforis untuk menggambarkan
pengalaman atau objek secara lebih mendalam. Contohnya, "sinar matahari
merayap seperti jemari emas yang membelai tanah gersang" atau "suara
angin di pepohonan menggelembung seperti suara tawa anak-anak yang
bermain."
2. Sense of smell atau indera penciuman adalah elemen penting dalam berdiksi karena dapat menambah kedalaman dan kehidupan dalam deskripsi pengalaman atau suasana. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of smell dapat digunakan dalam berdiksi:
·
Deskripsi
Lingkungan: Menggunakan aroma untuk menggambarkan lokasi atau lingkungan dengan
lebih jelas. Contohnya, "aroma bunga melati yang menyegarkan memenuhi
udara di taman itu" atau "bau tanah basah setelah hujan turun sepanjang
malam."
· Karakterisasi:
Menambahkan aroma untuk menggambarkan karakter atau suasana hati. Misalnya,
"parfum mewah yang menguar dari lehernya menunjukkan keanggunan dan
kepercayaan dirinya" atau "bau rokok dan alkohol yang menusuk hidung
menggambarkan gaya hidupnya yang kasar."
· Memori dan
Emosi: Menggunakan aroma untuk memicu memori atau mengekspresikan emosi
karakter. Contohnya, "aroma kue mangga yang manis membawa kenangan masa
kecilnya yang bahagia" atau "bau bensin yang tajam memicu kecemasan
dalam dirinya."
· Metafora dan
Simbolisme: Menggunakan aroma secara metaforis untuk menggambarkan suasana atau
konsep. Misalnya, "bau kemarahan yang menyengat terasa di udara" atau
"aroma kebohongan yang terasa menyengat di ruang rapat itu."
3. Sense of taste, atau indera perasa, juga dapat digunakan
dengan efektif dalam berdiksi untuk memperkaya pengalaman pembaca dengan
sensasi-sensasi yang berkaitan dengan rasa. Berikut adalah beberapa cara di
mana sense of taste dapat dimanfaatkan dalam berdiksi:
· Deskripsi
Makanan dan Minuman: Menggunakan rasa untuk menggambarkan makanan atau minuman
dengan lebih jelas. Contohnya, "rasa manis dari cokelat leleh mengalir di
lidahnya" atau "rasa pedas dari sambal yang membara memenuhi seluruh
mulutnya."
· Ekspresi Emosi
atau Perasaan: Menggunakan rasa untuk mengekspresikan emosi atau perasaan
karakter. Misalnya, "rasa getir kecewa yang seperti pahit di ujung
lidahnya" atau "rasa gembira yang segar seperti buah-buahan tropis
yang manis."
4. Sense of Jurnalism
merujuk pada cara penggunaan diksi yang khas dalam konteks jurnalisme untuk menyampaikan berita atau cerita dengan cara yang informatif, jelas, dan terkadang juga memikat.
5. Sense of hearing atau indera pendengaran dapat diterapkan
secara efektif dalam berdiksi untuk menciptakan pengalaman auditori yang kuat
dalam tulisan. Berikut beberapa cara menggunakan sense of hearing dalam
berdiksi:
·
Deskripsi
Suara: Menggunakan kata-kata untuk menggambarkan berbagai jenis suara dengan
detail. Misalnya, "derap langkah kaki yang cepat di lorong yang sepi"
atau "gemerisik daun kering yang disapu angin."
·
Atmosfer dan
Nuansa: Suara dapat digunakan untuk membangun atmosfer atau nuansa tertentu
dalam sebuah setting. Contohnya, "gemuruh petir yang menggetarkan
jendela" untuk menciptakan ketegangan atau "suara riuh kerumunan yang
memenuhi pasar pagi."
·
Ekspresi
Emosi: Suara juga dapat mengekspresikan emosi atau perasaan. Misalnya,
"senandung riang anak-anak yang bermain di halaman sekolah" atau
"ratapan sedih yang terdengar di ruang tengah rumah duka."
·
Simbolisme
dan Metafora: Suara dapat digunakan secara metaforis untuk menyampaikan makna
yang lebih dalam. Contohnya, "suara jangkrik malam yang menyiratkan
kesepian di hatinya" atau "nyanyian angin yang membawa berita
baik."
MasyaAllah tabarakallah
materi dari bunda MAY luar biasa bertabur diksi. sehingga peserta
antusias dalam sesi tanya jawab.


mantap bunda
BalasHapusTerimakasih...🥰🙏
HapusTetap semangat buat kita bunda
BalasHapusInsyaAllah semangat sampai akhir kita lulus ya bunda ❤️
HapusSemoga kita semua lulus ya bunda
BalasHapus